Oleh Heru Hikayat
“First we went through a couple of rooms
where the pictures aren’t pictures of anything, just splodges, and then
we get to our bit, the new exhibition, there aren’t many pictures at
all….”
Nick Hornby in Nipple Jesus
The Art Book,
terbitan Phaidon, sebuah “kamus gambar”. Isinya berupa deretan gambar
karya para seniman barat, disusun berdasar kronologi alfabet. Tiap-tiap
seniman 1 halaman, 1 gambar karya. Buku ini berguna jika sekali waktu
ada orang menyebutkan nama seniman, tapi kita lupa-lupa ingat karyanya
semacam apa. Buku ini tidak berguna jika kita ingat visual karya, tapi
tidak ingat nama seniman. Buku ini juga tidak berguna, jika kita sama
sekali tidak tahu-menahu sejarah seni rupa barat. Mudah dimengerti,
kenapa yang disebut “
art” (diterjemahkan “seni”), yang disebut “
artist” (diterjemahkan “seniman”), sebagian besar adalah pelukis. Sedikit pematung, beberapa karya instalasi,
enviromental art, fotografi, artefak
performance art.
Empat kategori yang disebut terakhir sepintas tampak hanya jadi
pelengkap. Saat ini saya bahkan tidak ingat ada karya seni grafis atau
keramik dalam buku itu.
Tiap gambar karya disertai teks aforisme. Teks bersifat menjelaskan.
Tidak tentang senimannya, tapi tentang nilai lebih kekaryaannya secara
menyeluruh. Penjelasan tentang pilihan pemuatan gambar karya tertentu di
buku, kita dapatkan lebih tersirat. Seperti disebutkan di atas, buku
ini berguna untuk mengingat-ingat, kalaupun untuk menjelaskan, hanya
jadi alat bantu.
Teks di bagian Paul Cezzane mulai dari penjelasan lukisan berjudul
Mont Sainte-Victorie, tahun 1885/95. Dijelaskan subjek lukisan adalah
pegunungan di Prancis Selatan. Daripada menekankan perbedaan warna
berdasarkan perubahan yang dipengaruhi cahaya dan pembayangan, Cezzane
merubah warna-warna itu sendiri. egunungan dan lanskap di sekitarnya
telah disederhanakan menjadi bidang-bidang geometris dan “dataran”
warna. Hasilnya bukanlah lukisan yang taat mereproduksi pemandangan,
tapi pembentukan variasi warna dan volume melalui interaksi-antara
cahaya dan pembayangan. Pencapaian artistik ini dihasilkan dari paduan
studi langsung ke lapangan dan rasa (
sense) kebentukan klasik.
Reduksi Cezzane atas alam menjadi bidang geometris sederhana dan
penggunaan warna-warna tegas, memengaruhi karya-karya Kubis dan Fauvis
di masa setelahnya.

Mont Sainte-Victoire (1882–1885), Cézanne

Mont Sainte-Victoire (1885–1887), Cézanne
Kalau mengingat-ingat bagaimana dulu guru seni rupa di sekolah
mengajarkan pewarnaan atau teknik arsir gelap-terang berdasarkan
pengaruh cahaya dan pembayangan di alam, Cezzane-lah yang merintis jalan
menghindarinya.
Di bagian Claude Monet, komentar Cezzane menjadi penutup teks: “hanya
sebuah mata, tapi Tuhan betapa mata itu!” Dijelaskan, ketika Manet
membangun taman-air (
water-garden) di rumahnya di Giverni, ia
mulai melihat kemungkinan-kemungkinan piktorial tertentu. Taman itu
menjadi subjek lukisannya berkali-kali hingga ia meninggal. Seri lukisan
tentang taman itu, yang dibuat pada musim panas 1899 dan 1900,
merefleksikan variasi konstan cahaya dan udara, menyeluruh di permukaan
kolam
waterlily. Gambar yang disertakan di buku adalah lukisan Waterlily Pond, tahun 1899.
“Berkilau oleh paduan warna-warni dan pantulan, lanskap ini dipenuhi
hawa segar dan diselimuti cahaya. Monet memenuhi kanvasnya dengan sapuan
individual warna-warni yang beda, menciptakan serupa kabut bebiruan,
memerahan dan hijau-hijauan, serupa cercah cahaya di atas permukaan air.
Inilah pencapaian Monet”. Demikian cara
The Art Book
mendeskripsikan–ngawawaas–karya Monet. Terakhir, Monet ditegaskan bukan
hanya sebagai tokoh penting dari gerakan Impresionis, lebih dari itu
eksperimen-eksperimennya dengan cat, warna dan cahaya, telah
memformulasikan acuan awal bagi seni lukis abstrak.
Greenberg meneladani kritisisme rintisan Imanuel Kant. Ia yakin ini
adalah jantungnya modernisme–menggunakan karakteristik metoda dari satu
disiplin untuk mengkritik disiplin itu sendiri, bukan untuk mensubversi,
melainkan untuk mendalaminya, mengokohkan pada area kompetensinya
sendiri. Sementara modernisme, adalah paradigma pertama dan utama dari
seni modern. Mendiskusikan konsep Greenberg barangkali menjadi satu cara
untuk menyadari kemodernan seni. Pilihannya jatuh pada suatu alur
perkembangan lukisan.
Greenberg menyatakan aktifitas seperti agama tidak mampu mengambil
keuntungan dari kritisisme imanen Kantian untuk menjustifikasi dirinya
sendiri. Seni sempat juga tampak akan bernasib serupa. Seni tampak hanya
akan diasimilasikan secara murni dan sederhana dengan hiburan,
sementara hiburan, seperti halnya agama, tampak seakan diasimilasikan
dengan terapi. Seni dapat menyelamatkan diri dari penurunan level ini
hanya dengan mendemonstrasikan bahwa jenis pengalaman yang ia tawarkan
bernilai secara tersendiri dan tidak bisa dibaurkan dengan jenis
aktifitas lain.
Tiap seni harus mendemonstrasikan hal ini secara tersendiri juga. Keunikan dan ketidak-tereduksian (
irreducible)
yang harus ditunjukkan dan diperjelas bukan saja menyangkut seni secara
general, melainkan menyangkut tiap-tiap seni secara partikular.
Greenberg terus menegaskan, tiap jenis seni harus mendeterminasikan
melalui operasi yang khusus miliknya sendiri, juga dengan dampak-dampak
yang ekslusif miliknya sendiri. Dengan melakukan ini, tiap seni akan
mempersempit area kompetensinya, tapi secara bersamaan akan memantapkan
area kepemilikannya.
Rumus yang ditawarkan Greenberg untuk lukisan adalah mulai dari
pertanyaan, apa sesungguhnya kelebihan yang dimiliki lukisan–benar-benar
milik lukisan dan tidak dimiliki jenis seni yang lain? Cara bertanya
seperti ini berlaku untuk jenis-jenis seni yang lain, untuk terus
menelusuri keunikan masing-masing. Inilah semangat kritisisme Kantian.
Inilah kesadaran modern yang ditawarkan. Titik awal niscaya dilatari
alasan-alasan dan diikuti berbagai konsekuensi.
Area kompetensi tiap seni bermula dari keunikan natural mediumnya.
Tugas kritisisme-diri menjadi soal eliminasi efek dari tiap seni dan
semua efek yang mungkin terpikirkan sebagai pinjaman dari/oleh medium
seni jenis lain. Dari sini Greenberg merumuskan soal kemurnian.
Kemurnian yang jadi standar kualitas sekaligus independensi. Lebih dari
itu, kemurnian dikemukakan sebagai pendefinisian-diri.
Menarik, Greenberg menganggap ada upaya berani dari kritisisme-diri
dalam seni yang menjadikan pendifinisian-dirinya penuh dengan semacam
pembalasan dendam. Realistik, yaitu “seni ilusionis”, telah mengurai
medium, menggunakan seni untuk menyembunyikan seni. Maka kaum Modernis
menggunakan seni untuk memusatkan perhatian pada seni. Batas-batas yang
mengkonstitusikan medium lukisan –kedataran permukaan, bentuk kalangnya,
properti berupa cat– diperlakukan oleh Old Masters sebagai faktor
negatif yang hanya bisa dikenali secara tersirat atau tidak langsung.
Lukisan Modernis membalikan batasan-batasan tersebut menjadi faktor
positif yang justru harus dikemukakan secara terbuka.
Greenberg menjunjung kaum Impresionis sebagai perintis. Impresionis
dalam aras rintisan Manet mengenyahkan lukisan/sketsa dasar dan teknik
kilauan cahaya, agar mata tanpa keraguan tertuju pada fakta bahwa
warna-warni dihasilkan dari cat sungguhan yang berasal dari kaleng atau
tube.
The Art Book memujinya sebagai terobosan artistik,
Greenberg menyebutnya kejujuran. Sementara Cezzane dipuji Greenberg atas
pengorbanan kemiripan atau penampakan nyata/benar, demi menyesuaikan
drawing dan rancangan secara lebih eksplisit pada bentuk persegi kanvas.
Greenberg terus fokus pada kedataran kanvas, yaitu pada sifat
dua-dimensional. Kedataran ini secara provinsial milik lukisan, dan
tidak bisa dimiliki seni jenis lain. Sangat logis jika lukisan Modernis
mengarahkan dirinya pada hal ini, dan tidak pada yang lain.
Greenberg tampak bersemangat memaparkan arah pergerakan lukisan dalam
upayanya melawan saingan terdekatnya: seni patung. Perlawanan ini telah
dimulai jauh sebelum masa Modern. Harus diakui bahwa lukisan Barat
dalam usaha kerasnya mewujudkan ilusi realistik, berhutang banyak pada
seni patung. Seni patung dari semula mengajarkan bagaimana membentuk dan
memodelkan melalui ilusi relief, bahkan mengajarkan bagaimana
mendisposisikan ilusi itu dalam sebuah ilusi komplementer dari kedalaman
ruang.
Para pelukis Old Master dalam rangka mempertahankan integritas bidang
gambar, menyampirkan kedataran di balik kekuatan ilusif ruang
tiga-dimensional. Bagi Greenberg, kondisi ini sesungguhnya kontradiktif.
Justru kejelasan kontradiksi ini yang menjamin kesuksesan seni mereka,
bahkan semua seni piktorial. Lalu kaum Modernis tidak memecahkan maupun
menghindari kontradiksi ini. Mereka hanya membalikan termanya: seseorang
dibuat sadar akan kedataran sebelum, bukan sesudah disadarkan tentang
apa isi kedataran itu. Di mana pun seseorang melihat apa yang ada di
dalam sebuah karya Old Master sebelum melihatnya sebagai gambar, ia
melihat karya Modernis sebagai gambar dulu. Greenberg terus menekannya
dengan menyatakan, bahwa tentu saja hal ini adalah cara terbaik melihat
gambar, baik Old Master maupun Modernis. Tapi kaum Modernis
menegaskannya sebagai satu-satunya cara, dan usaha mereka sukses. Dengan
demikian ini merupakan kesuksesan kritisisme-diri.
Fase perkembangan terakhir lukisan Modernis, yaitu pengenyahan
representasi objek yang bisa dikenali, tidak penting bagi Greenberg. Apa
yang dienyahkan secara prinsipil adalah representasi dari suatu ruang
yang bisa dikenali. Ruang yang bisa dihuni oleh objek tiga-dimensional.
Hingga Ke-abstrak-an atau non-figuratif, tidak menjadi bukti pada
dirinya sendiri dari momen kritisisme-diri dari seni piktorial–walaupun
seniman hebat semacam Kandinsky dan Mondrian mengira begitu.
Representasi ataupun ilustrasi tidak mengurangi keunikan dari seni
piktorial. Asosiasi pada hal yang direpresentasikan, itulah yang
menguranginya. Semua entitas yang dikenali (termasuk gambarnya sendiri)
mengada dalam ruang tiga-dimensional. Misalnya penonjolan fragmentasi
dari
sillhouette figur manusia atau cangkir teh, akan
mensugestikan asosiasi dengan ruang yang sama. Hal ini mengalienasi
ruang piktorial dari kedua-dimensian yang sesungguhnya menjamin
independensi lukisan sebagai seni. Ketiga-dimensian adalah wilayah seni
patung, maka demi otonomi dirinya, lukisan harus mengutamakan upaya
mengurai apapun yang mungkin terbagi antara dirinya dan seni patung.
Dalam rangka inilah, bukan dalam rangka mengenyahkan sifat
representasional ataupun ke-literer-an, lukisan mengabstraksi diri.
Greenberg tidak setuju dengan penekanan prestasi kaum Impresionis
dalam hal warna-mewarna. Kaum ini bagi Greenberg lebih mempersoalkan
pengalaman optikal. Suatu pengalaman optikal yang murni dan literer,
bukan pengalaman optikal yang dimodifikasi atau direvisi oleh asosiasi
sensasi rabaan. Dari titik ini Greenberg merumuskan alur perkembangan
lukisan Barat hingga pada titik “kanvas begitu datar hingga tak bisa
lagi menampung citraan yang bisa dikenali”.
Alur perkembangan tersebut bukannya tanpa masalah. Bukan tanpa
dialektika. Dialetikanya berpusar pada soal esensi dan konvensi. Makin
esensial norma atau konvensi dari disiplin tertentu, batas-batas pun
makin mengetat, hingga mengurangi kebebasan. Tapi batasan ini penting
agar lukisan tetap bisa dialami sebagai gambar. Modernisme dinyatakan
telah mampu menghela kondisi keterbatasan ini secara non-defintif,
sejauh mungkin, sampai titik sebelum sebuah gambar berhenti menjadi
gambar dan berubah menjadi objek arbitrari. Di samping itu, Modernisme
juga menemukan masalah, makin jauh batas-batas ini dihela, makin besar
tuntutan untuk mengobservasi mereka secara eksplisit.
Greenberg mengemukakan contoh masalahnya pada lukisan Mondrian.
Lukisan Mondrian dipenuhi persilangan garis-garis hitam tebal dan
bidang-bidang segi empat yang dipenuhi warna-warna primer nan tegas.
Hanya itu, hingga kita tak dapat lagi membayangkan gambar apapun di
dalamnya. Ketegasan ini kemudian menjadi norma yang meregulasi kekuatan
dan kekomplitan baru. Dengan berlalunya waktu, seni Mondrian terbukti
jauh dari menjelekan bahaya ke-arbitrer-an dari absennya model di alam.
Bahkan, seni Mondrian terbukti terlalu disiplin. Dalam batas tertentu
juga terlalu terkurung konvensi. Sekali kita terbiasa dengan
keabstrakannya yang penuh, kita menyadari bahwa karyanya lebih
tradisional dalam warna, juga dalam hal penghormatannya secara
berlebihan pada bingkai–lebih daripada karya-karya Monet terakhir.
Greenberg pun mengakui pemetaan rasionalisasi seni Modernisnya tidak
mungkin tidak menyederhanakan dan melebih-lebihkan. Kedataran, ke mana
lukisan Modernis mengarahkan dirinya, bukanlah kedataran
sebenar-benarnya. Peningkatan sensitivitas bidang gambar barangkali
tidak lagi menyediakan ilusi kepatungan, tapi tetap mustahil menghindar
dari penyediaan ilusi optikal. Jejak pertama yang ditorehkan pada
permukaan bidang gambar, menghancurkan kedataran virtualnya. Konfigurasi
pada sebuah karya Mondrian masih menyarankan sesuatu dimensi ketiga,
hanya saja kini sepenuhnya piktorial, sepenuhnya dimensi ketiga yang
piktorial. Saat kaum Old Master menciptakan ilusi ruang di mana kita
bisa membayangkan diri kita berjalan di dalamnya, ilusi yang diciptakan
seorang Modernis hanya bisa dilihat, hanya bisa ditelusuri dengan mata.
Di titik ini seni rupa bisa dibilang bermain mata dengan sains.
Perkaranya adalah spesialisasi dalam pengertian konsistensi saintifik.
Apalagi keistimewaan seni rupa kalau bukan perkara pengalaman visual?
Clement Greenberg disebut-sebut sebagai paus-formalisme Amerika
Serikat. Ia seolah menjadi tonggak dan benteng terkuat dari pemunculan
nilai kebebasan dalam seni, ala Amerika. Bagian yang belum didiskusikan
dalam tulisan ini adalah keyakinan Greenberg bahwa kritisisme-diri kaum
modernis dijalani sepenuhnya sebagai spontanitas dan secara ambang-sadar
(subliminal). Ditegaskannya, bahwa kritisime itu dipertanyakan terus
dalam wilayah praktek, bahkan imanen pada praktek dan tidak pernah
menjadi topik dari teori. Maka masalah utama segala teori seni adalah
relevansi dengan praktek dan pengalaman seni. Greenberg memang memuja
intuisi. Baginya bahkan pemirsa hanya bisa menghargai seni dalam keadaan
termenung-sendirian. Mark Rothko dipuji karena warna-warnanya tampak
bervibrasi, menunjukan kualitas “mistis”.
Persis di sini para pengkritik Greenberg menemukan peluang.
Kesuksesan formalisme Amerika dengan latar kekuatan pemikiran tokoh
besar semacam Greenberg justru menjadi bukti bahwa seni tidaklah
benar-benar independen, tidak imanen pada praktek. Teori-teori
berpengaruh dari pemikir semacam Greenberg menguatkan kesan bahwa karya
seni punya ketergantungan tertentu pada teks tertulis.
Kondisi kemodernan lukisan di Indonesia tidak bermula dari penjarakan
kanvas dari narasi ataupun ajaran untuk mengeliminasi efek-efek yang
tidak perlu demi mengejar kemurnian. Kritisisme imanen yang dipuja-puji
Greenberg pun barangkali berkesan terlalu sekuler di sini.
Tulisan ini menggaris-bawahi penyadaran pada keunikan medium dan cara
menyadari kemodernan secara spesifik pada masing-masing disiplin seni;
bukan soal keberlawanan abstrak dengan representasional atau figuratif
versus non-figuratif misalnya. Apakah itu modern, apakah itu seni
modern, apakah itu lukisan modern, dan seterusnya. Ini merupakan satu
perspektif dalam mendiskusikan modernisasi lukisan. Perspektif ini toh
bukan kebenaran mutlak. Seperti halnya seni yang selalu menggeliat,
membebaskan diri dari rumusan yang terlalu defnitif. Bukan berarti tidak
bisa dijelaskan sama sekali. Dalam hal lukisan, harus disadari bahwa
kanvas adalah konstruksi. Sesuatu mitos yang telah dicanangkan dari satu
masa, dalam suatu konteks kultural. Kanvaslah yang meneguhkan nilai
lebih lukisan, menjulang mengatasi seni jenis lain. Mendiskusikan kanvas
berarti menyoal premis-premis yang meninggikan hirarki lukisan dalam
kerangka seni modern: menyadarinya menjadi tugas kita, generasi yang
mewarisi konstruksi tersebut.
Panorama 9, 12 Juli 2005
– Heru Hikayat, kurator.
————
Tulisan ini pertama kali dipresentasikan sebagai materi tutorial
dalam Workshop Seni Lukis di Jurusan Seni Rupa UPI [Universitas
Pendidikan Indonesia], diselenggarakan atas inisiatif
Rumah Proses, Bandung: Juli 2005.
Gagasan ini pun pernah didiskusikan di Madrasaf Malsafah, di bulan April 2010.